
6401 senja telah kulalui. Bukan angka yang fantastis jika dibandingkan dengan sebagian besar umat manusia. Ya, aku memang masih muda. Tapi aku bisa menceritakan pada dunia tentang hadiah yang senja berikan padaku; cerita di panggung sandiwara kehidupan.
1994
Tak banyak yang kuingat. Biru. Aku berdiri di dekat meja makan, memandang ke halaman belakang rumah. Kudengar suara klakson mobil dibunyikan dan aku pun berlari ke luar, “Papa!”
1996
“Aku menculik adikmu!” teriak Vincent sambil menggendong bungkusan di tangannya. “Bohong!” teriakku, “Mana sini liat?” Tawa Vincent terlepas, “Kejar sini kalau mau lihat!” dan ia pun mulai berlari.
Kaki kecilku berlari, berusaha menangkap Vincent. Tidak sampai semenit kemudian, nafasku mulai habis. “Vin.. cent.. Tunggu!” pintaku terengah-engah. Vincent masih tergelak-gelak dan berlari. Tidak ia lambatkan kecepatan kakinya.
Aku pun putus asa. Aku duduk di lantai dan mulai menangis, “Jangan.. Culik… Jangan!” Air mata mengaburkan pandanganku.
1997
“Papa?”
Begitu mendengar suaraku, Papa melepaskan pelukan wanita itu. Wanita itu jelas-jelas bukan Mama. Dia jauh lebih muda dari Mama dan jauh lebih cantik dari Mama.
“Nadia… Kok… Siapa yang bawa kamu ke sini?” tanya Papa terbata-bata.
Aku tidak bisa menjawab. Aku bisa merasakan dahiku berkerut menatap Papa dan wanita itu kebingungan. Wanita itu buru-buru berbalik, menutupi tubuhnya yang hanya berbalutkan pakaian renang.
“Nadia, jangan bilang Mama ya?” pinta Papa.
**
“Mama pulang!” teriakku. Kudorong tubuh Rosa ke lantai. Suara tangisnya memecahkan kesunyian.
“Nadia!”
Begitu Mama mendengar tangisan Rosa, dengan terburu-buru ia masuk ke dalam rumah dan menggendongnya. “Kamu apakan adikmu?” bentak Mama. Aku menunduk tak berani menjawab. Padahal aku hanya ingin duluan dipeluk Mama.
“Rotan mana?” teriak Mama.
“Jangan! Nggak mau rotan! Nggak mau!”
“Pukul adik nggak mau rotan? Nggak bisa!”
Aku benci rotan. Benci sekali. Sakitnya menyengat kulitku. Memaksa aku menangis. Tapi, semakin aku menangis, pukulan Mama semakin keras. Ah, coba saja waktu itu Vincent benar-benar menculik Rosa.
1999
Halaman sekolah sepi. Seharusnya aku sudah dijemput berjam-jam yang lalu. Sudah lima kali penjaga sekolah menanyakan jemputanku. Aku takut. Takut sekali. Nyamuk mulai terbang mencari makanan. Tapi Mama belum juga datang mencari anaknya yang seharusnya sudah pulang.
**
“Papa mau pergi ke mana?” tanyaku.
“Papa harus pergi,” kata Papa.
“Tapi ke mana? Berapa lama?”
“Papa juga nggak tau, Nad.”
“Gimana bisa nggak tau?” aku mulai menangis.
Papa memelukku. Aku selalu menyukai wangi parfumnya yang bercampur dengan rokok dan alkohol. Wangi yang sangat maskulin. Wangi khas Papa.
“Nadia, Papa anggap kamu dewasa. Papa harus berpisah dengan Mama. Tapi Papa selamanya adalah papa Nadia. Nadia tinggal sama Mama dan jadi anak baik ya? Buat Mama bangga. Jaga Rosa. Papa… bercerai dengan Mama.”
“Cerai?”
2001
“Jangan temenan sama dia, deh! Aneh banget!” bisik Gita pada teman-temannya, “Kakinya banyak bekas luka gitu. Pasti dia preman.”
Bodoh. Aku dengar itu.
“Sonia, ngapain sih kamu deket-deket sama dia? Dia nyebelin banget!”
Aku menatap Sonia. Ia tersenyum padaku dan menggenggam tanganku. Tanpa kusadari, senyuman
Sonia memberikanku kekuatan. Aku bangkit dari tempat dudukku dan mendatangi Gita, “Iya, emang gue preman. Mau apa lo?”
Aku tersenyum melihat Gita setengah berlari menjauh dariku.
**
“Gue udah nggak mau temenan sama lo lagi.”
Mata Sonia berair mendengar ucapanku. Tangan kecilnya gemetar. Air mata mulai tergenang di kedua matanya.
Aku berbalik, bergabung dengan geng baruku, meninggalkan Sonia menangis. Itu kali terakhir aku melihat Sonia.
2003
Angin laut mengacak-acak rambutku. Sesaat aku merasa seperti gadis iklan shampoo. Aku pun memejamkan mata, merentangkan tanganku dan membayangkan adegan Titanic. Aku begitu larut dalam imajinasiku sampai aku tak menyadari keberadaan seseorang.
“Titanic?” tanya suara itu.
Aku buru-buru menghentikan imajinasiku dan menoleh ke arah suara itu. Seorang pria. Manis, bergaris wajah tegas, dan berlesung pipit tengah menatapku. Dengan malu, aku mengangguk.
Ia menyodorkan tangan kanannya, “Putra Ardana.”
Aku menyambut tangannya, “Nadia.”
“Cuma itu?”
Aku mengangguk, “Nadia juga nama bohongan kok. Aku nggak punya nama.”
Senja itu, di atas kapal pesiar, aku jatuh cinta untuk pertama kalinya.
2005
“Saya minta pertanggung jawaban kamu sebagai Ketua OSIS,” bentak Ibu Lina, “Gimana bisa dana sebesar ini dikeluarkan, berita dipublikasikan, tapi kamu tidak meminta persetujuan Kepala Sekolah?”
“Soalnya saya tau, kalau saya minta persetujuan Kepala Sekolah, jawabannya pasti nggak. Semua murid mau acara ini, Bu. Ibu harus ngerti.”
“Kamu bukan Ketua OSIS lagi. Mulai besok Paula akan menggantikan kamu,” ucap Bu Lina tegas seraya membereskan arsip-arsip di atas meja. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Setiap ketukan sepatu haknya seperti tamparan di wajahku. Tak terasa, setetes air mata jatuh ke tanganku.
“Nad, kamu nggak salah,” kata Kia. Tangan kanannya menggenggam tanganku dan jempol kirinya menghapus air mata yang mengalir di pipiku, “Kamu nggak salah.”
2007
“Senja ini, saya berdiri di sini tanpa tahu di mana saya akan berada di senja sepuluh tahun lagi. Setiap langkah yang kita ambil akan menentukan individu seperti apa yang akan tercermin di diri kita. Satu yang saya tahu pasti, pendidikan yang kita dapat selama 9 tahun ini adalah batu loncatan. Masih belum terlambat untuk belajar. Kita sudah menjadi kupu-kupu. Saatnya kita terbang dan buktikan pada dunia, apa yang kita punya.”
Kuakhiri pidatoku dengan senyuman. Aku turun dari podium disambut oleh Kepala Sekolah yang membawa karangan bunga. Kita berjabat tangan. Dan aku kembali duduk di kursiku.
“Terima kasih, Nadia, telah menyampaikan pidato kelulusan tahun ini. Nadia adalah salah satu alumni kebangaan sekolah kami karena selain kecemerlangannya mendapatkan nilai terbaik seprovinsi dalam Ujian Nasional, Nadia juga menunjukan nilai-nilai kepemimpinan yang patut dipuji…,”
2008
Satu per satu orang meninggalkan taman bermain ini. Hari sudah mulai senja. Aku masih berayun di ayunan sambil melamun, menyesali keputusanku pindah ke negeri orang. Hidup di Indonesia jauh lebih baik.
Bintang perlahan muncul. Saatnya aku pulang. Aku pun berjalan lunglai menuju asrama.
2009
“Honey, I’ll be right back,” katanya sambil mengecup keningku.
Aku menarik tangannya, “Can I come with you?”
Ia berpikir sebentar, “No, honey. I promise you 10 minutes.”
Aku mengangguk.
Dua puluh menit kemudian, ia kembali membawakan makanan. “So we have spaghetti and apple pie today,” katanya menaruh bungkusan makanan di depanku, “Do you like pasta?”
“I’m not picky in terms of food,” jawabku.
“But you are certainly picky in terms of guys,” sambungnya.
Aku tersenyum kecil dan membuka bungkusan makanan itu. Josh mengambil garpu dan menyuapkan gulungan spaghetti ke dalam mulutku dan menjilat saus sisanya dari garpu. “It tastes pretty good,” komentarnya.
Aku bergerak mendekat, duduk di atas pangkuannya. “I know how to make it taste better,” kataku sambil tersenyum nakal.
Josh menatapku dengan penasaran, berusaha menyembunyikan senyum di bibirnya, “Oh, you do?”
Kuambil sehelai spaghetti dan menggigit ujungnya. Ujung satu lagi kusodorkan ke depan Josh.
Seolah bisa membaca pikiranku, Josh menggigit ujung satunya lagi. Senti demi senti, bibir kita semakin mendekat dan akhirnya bertemu.
“Shall we skip dessert?”
“Oh, certainly. I can’t wait to taste you.”
2010
Aku sedang mengetik esai untuk masuk ke universitas ketika handphone-ku bergetar. SMS. Aku tersenyum kecil, hanya satu orang yang tahu nomorku yang ini.
Josh.
Dengan tidak sabar, kubuka SMS itu. Tak kusangka, isinya merubah senyumanku menjadi gertakan gigi. Itu bukan Josh. Itu istrinya mengatakan bahwa Josh sudah melupakanku dan aku adalah wanita murahan yang mencoba menghancurkan 3 tahun perkawinannya.
Aku merasa rendahan. Murahan. Hina. Malu. Apa bedanya aku dengan wanita baju renang yang menyebabkan Papa pergi? Hampir saja aku menghapus pesan itu saat aku mengingat diriku sebelum Josh, gadis terpopuler sesekolah yang berlidah tajam dan tidak pernah kalah.
Senyum kecil tersungging di bibirku. Aku tahu tindakanku akan membuatku kehilangan Josh selamanya. Tapi yang aku perlukan bukan Josh, tapi harga diri. Aku tidak bisa diam saja membiarkan wanita yang tidak pernah kutemui itu menghinaku, mengiraku takut.
Tanganku dengan lincah mengetik balasan SMS. Terkirim.
Di suatu tempat dua jam di depanku, seorang pria mendapat tamparan dari istrinya. Di atas ranjang mereka, sebuah handphone tergeletak menayangkan video penyebab tamparan itu.
“Josh, tell me who you love?”
“You, of course!”
“Who?”
“You!”
“I want the name, honey. Tell me who you love?”
“Nadia. I love Nadia and nobody else. Only Nadia!”
“I love you, too”
Tapi aku lebih mencintai diriku sendiri.
Bandung, 2010