I Shall Write Love On Her Arms

I shall write love on her arms
knowing that she will need some
courage to help her through the storm
Hide her razor out of sight
Hoping she would see some bright light
- There’s a candle in the darkest night
I shall write love on her arms
Although she is not the only one
facing this problem amalgam
She needs to be constantly told
That she is God’s to hold
That she is precious
in God’s eyes
I shall write love on her arms
hoping that she would stay calm
in a healthy state of mind
I shall write love on her arms
Hoping that she would understand
“To be hurt
To be disappointed
To feel unloved
are lessons of life
To stand up
To forgive
and to love
is what a brave soul would do”
I shall write love on her arms
So that next time when temptation comes
she would know
that she is loved.
Singapore, 2009
more info : www.twloha.com
RESCUE IS POSSIBLE!
Russian Roulette

Well, I might be having an infatuation over this guy. I don’t actually know. I mean, as a person, he is not my type of guy. However, once we went further and there, I kind of feel that something changed. Until now.
We pretend as if nothing happens. But they don’t. Our feelings don’t. *sigh* This is a lesson, not to play with fire…
I can sing you thousands of love songs
I can hug you all night long
But somehow I feel I don’t belong
Somehow I sense there’s something wrong
Is it you, or is it me?
Is it our perfect fantasy?
That seems impossible in reality
It’s just nice to be here
Just nice to stay still
You know completely how I feel
And how we love with thrill
But to take one more step ahead
Frankly, I’m still afraid
I don’t want to lose everything we have
By playing the love Russian Roulette
Singapore, 2009
Kembali

Di persimpangan jalan ini aku terhenti
Menatap kembali
hari-hari yang telah pergi
Dulu senyuman itu ada
Dulu hariku penuh tawa
Dulu aku ceria
Dalam hati aku bertanya
Apakah bisa
Aku kembali
Dan memutuskan untuk tidak beranjak pergi
Singapore, 2009
Cerita Onggokan Batu

aku coba menuliskan kata
mencurahkan segala rasa
berkutat dengan tinta
agar bisa merealisasikan cinta
tapi rima itu tak mau tercipta
rima itu sembunyi dibalik keajaiban rasa ini
aku tak bisa menuliskanmu puisi
menyenandungkanmu melodi
kata-kata hilang ditelan bumi
saat kau ada di sisi
setengah hatiku mati
gemetar mendengarkanmu tertawa lagi dan lagi
aku terpukau
memandang wajah pangeranmu
mendengar suara malaikatmu
merasakan kehadiranmu
dan aku mau
menghabiskan waktu denganmu
sampai bulan tak lagi baru
sampai semua menjadi palsu
meski aku
hanya sebuah onggokan batu
di matamu
Singapore, 2009
My Last Battle (A Chain of Words for Maria Monique)

Two weeks ago I went to watch the story of Maria Monique in GAYA 2009 put up by a group of SMU students in DBS auditorium. It was indeed a heart-touching story. Although it sounds mediocre when you tell it in words, but if you witness it by your own eyes, you’ll definitely be touched. Kill me if you don’t.
Tante Natalia Tjahja, Maria Monique’s mother, is a strong woman indeed. We should nominate her as Indonesia’s strongest women 2009! Rather than having that Anggun C. Sasmi getting the 73rd position! Ewh. Okay back to the topic. She established a foundation after her daughter’s death : LastWish Foundation which meant to grant last wishes of dying kids. Her daughter’s death actually gave hope to other children.
For complete background story, you can actually go to this link : http://www.mariamonique.org/20.html but it is in Indo
This poem is actually meant to be a song. Well, I made the melody. I’ll record it when I finally get my guitar. Haha… It’s about Maria Monique’s thought for her mom. Well, I can’t actually know what she’s thinking but I just interpret from the play I watched, and try to be in Maria Monique’s shoes.
Yeah… So Maria Monique, this is for you… and thank you for giving love to others like you…
Sing to me a lullaby
As I start my long journey
Hold me closely in your arms
Till I cannot see you, mom
Don’t be sad and don’t regret
I had a good time in this world
Now it’s time for me to go
Wipe your tears, don’t let it flow
Coz there’s Someone waiting for me there
And I shall be well taken care
Mommy, please don’t be scared!
I’ll be watching you from up there
And we will meet again some day
Reminiscing the good old days
No more pain we’ll suffer from
So just be patient, mom
Leaving you is kind of hard
I know you love me from the start
Though I am a world far apart
You’ll always be in my heart
Can I tell you my last wish?
Will you fulfill my lifelong dream?
Show some love to kids like me
That can’t reach their maturity
There’ll be Someone waiting for them there
And they will be well taken care
Tell them they don’t have to be scared
I will be their best friend up there
Tell them to have a brave, brave heart
And it wouldn’t hurt as much as how it feels now
It’s my last battle to live
I give up; Mommy, please don’t grieve!
I know I can’t win the fight with fate
I have to accept the death
But there’s Someone waiting for me there
And I shall be well taken care
Mommy, please don’t be scared!
I’ll be watching you from up there
And we will meet again some day
Reminiscing the good old days
No more pain I’ll suffer from
So just let me go, mom
It’s a nice place up here
How I wish that you were here
Live your life for me as well
I’m glad to have you as my mom…
Singapore, 2009
Perjalanan Memori

Cerita ini dibuat dari banyak inspirasi : lagu Yogyakarta, Bandung, si bodoh, dan masa lalu gue. Meskipun nggak seekstrim yang di dalam cerita, I walked down this memory lane. Tapi semua sekarang udah gue bungkus kertas koran dan simpan dalam lemari, di balik tumpukan baju gue. Yeap, I’ve forget this story already…
By de way, lumayan panjang nih..! Haha
First reader : Nita
Kupijakkan kembali kakiku di kotamu, Bandung. Sudah berbulan-bulan aku mencoba menghindar darimu. Tapi, semuanya sia-sia. Bayanganmu mengikutiku ke mana pun aku pergi. Aku curiga ia akan mengikutiku sampai mati.
Malam itu, untuk pertama kalinya selama dua tahun terakhir, aku bisa tidur tanpa memikirkanmu, memikirkan Bandung, dan memutar kembali cerita kita dalam imajiku.
Udara Bandung yang nyaman membelai kulitku. Hari ini tidak begitu panas. Tidak begitu dingin. Tidak hujan; juga tidak terik. Cuacanya bagus. Hari yang sempurna untuk berjalan-jalan. Benar-benar berjalan; tidak seperti kebanyakan orang yang bilang berjalan-jalan tapi mereka mengendarai mobil. Seharusnya mereka bilang mereka bermobil-mobil.
“Terima kasih, Pak!” aku berkata pada tukang becak yang mengantarkanku ke BTC. Di dalam gedung maroon ini, kita pertama dan terakhir kali bertemu. Empat tahun lalu, dan sebelas bulan lalu.
Karpet ruangan itu masih berwarna coklat. Untung kau tidak di sana. Aku tidak perlu bermain petak umpet, kabur darimu. Setelah meminta izin, aku duduk bersila di ruangan tempat favoritku menangis.
“Kamu kenapa sih?”
“Kamu nggak pernah ngertiin aku!!”
“Duh, aku capek tau nggak sih kalau kamu gini terus…”
“Aku emang bikin capek! Puas?”
Senyum tipis terkembang di wajahku. Aku menertawakan tingkah lakuku. Memang betul, cinta bisa bikin orang kehilangan akal sehatnya.
Bukan hanya kenangan perih yang kuingat. Aku kembali membayangkan hari pertama kali kita bertemu, pertama kali kita bermain mata, pertama kali kita bertukar nomor telefon, pertama kali kau membelai rambutku, pertama kali kau menggenggam tanganku, dan pertama kali bibir kita bertemu.
Tak terasa setetes air mata menitik di pipiku. Dengan segera aku menghapusnya. Biar semua kenangan itu kini kukunci dalam kotak pandora.
Aku berjalan melewati deretan toko jeans di jalan Cihampelas. Suara bising lalu lintas dan hingar bingar sesama pejalan kaki yang bercengkerama kuanggap musik di telingaku.
Makin lama pohon yang menandakan jalan masuk Cihampelas Walk semakin jelas. Aku tersenyum tipis. Mungkin juga lega. Ini tempat pertama kita berkencan. Tempat pertama kali kamu bilang kalau kamu sayang sama aku.
Setengah jam lamanya aku duduk di J.Co. Hampir setengah lusin donat sudah kukonsumsi. Aku tidak peduli apa persepsi orang. Toh, aku sedang patah hati. Dan obat patah hati paling manjur adalah makanan manis.
Malam ulang tahunmu tahun lalu, kita habiskan di sini. Di tempat yang persis sama di tempatku duduk sekarang ini. Malam itu malam yang istimewa. Sekaligus mendebarkan. Karena aku menyelinap keluar rumah untuk bisa jadi orang pertama yang memberikanmu ciuman di ulang tahunmu yang ke tiga puluh dua.
Malam itu orang tuaku sadar aku tidak di rumah. Pukul sebelas kurang lima mereka dengan cemas meneleponmu dan kau bilang aku ada di sini, dan kamu akan segera mengantarku pulang. Sepuluh menit perjalanan pulang serasa semenit. Aku ingin selamanya memeluk punggungmu, merasakan hangat tubuhmu dan menghirup wangi badanmu. Sampai di rumah, aku menyelinap keluar lagi setelah mendengar ceramah Bunda dan Ayah. Kucium kau tepat pukul dua belas dan kubisikkan “Happy birthday,” di telingamu.
Bunyi telefon genggamku menyadarkanku dari lamunan tentang dirimu. Layar telefon genggamku berkedip-kedip. Tertera nomormu di sana. Meski sudah kuhapus, aku masih hafal. Aku hafal mati, bahkan lebih hafal daripada nomorku sendiri.
Kupencet tombol silent. Aku tidak mau tau tentangmu lagi. Kunjunganku kali ini ke Bandung bukan untuk menemuimu, tapi mengumpulkan potongan-potongan puzzle dirimu yang dulu yang bila kurangkai mungkin akan kutemukan jawaban mengapa aku sempat begitu mencintaimu.
Aku menggigit donat terakhir dan memutuskan meneruskan perjalananku meniti perjalanan memori kisah aku dan kamu.
Senyumku terkembang ketika kulihat furnitur yang begitu familiar. Coklat dan hijau. Kombinasi sempurna. Di tempat ini aku berpura-pura tegar dan tersenyum meskipun aku tahu kau sempat membawa perempuan lain duduk di kursi kita.
Aku memesan kopi kreasi sendiri; atau tepatnya kreasimu, kreasi kita. Untung tempat duduk favorit kita kosong. Kupilih kursi yang biasa kau duduki. Saat itu juga aku baru sadar kenapa kau begitu menyukai kursi ini. Derikannya membuat kursi ini makin menarik untuk dieksplorasi. Dan dari tempat ini, kau bisa melihat ke jalan raya dengan jelas, memperhatikan kehidupan di balik dinding kaca.
Dan penerangan tempat ini memperbolehkanmu untuk mengamati wajah orang yang duduk di seberangmu. Di kursi tempat biasa aku duduk, atau perempuan itu duduk. Entah apa dalam pikiranmu saat kau mengamati wajahku, atau perempuan itu, aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Karena jika aku tahu, maka akan lebih sulit bagiku untuk melupakanmu.
Aku menghabiskan tegukan terakhir kopi ‘Buatan Kita’ – sebuah nama yang tidak kreatif untuk kopi yang begitu bersejarah – dan mendapati daritadi barista bertopi memperhatikanku. Aku memutuskan untuk cepat-cepat beranjak pergi sebelum barista itu datang dan menyodorkan oreo cheesecake.
“Mbak, ada yang nelepon tadi. Katanya ini buat mbak,” ujarnya.
“Siapa?”
“Cowok, mbak. Tapi katanya dia nggak mau dikasih tau dia siapa.”
Aku tahu, itu pasti kamu, kan? Aku hafal gerak gerikmu. Dan caramu memperlakukanku. Maaf saja, sepotong oreo cheesecake tidak mampu membalut lukaku selama hampir tiga setengah tahun.
Warna jingga menghiasi langit sore ketika aku melangkahkan kaki keluar dari pusat perbelanjaan itu. Lagi-lagi telefon genggamku berdering. Di layarnya muncul wajah pria setengah baya berkumis lebat tersenyum lebar.
“Ya, Ayah?”
“Bi, udah satu hari loh. Pak Kadir sudah menunggumu di hotel daritadi. Kamu pulang dong. Jangan lupa besok jam delapan flightnya!”
“Iya, Ayah. Abi tau. Abi pulang ke hotel sekarang ya, Yah!”
Aku memencet tombol merah di telefon genggamku. Ayah pasti marah besar kalau beliau tahu putrinya ke Bandung bukan untuk belanja melainkan mengenang kembali cintanya yang dulu terpaksa ditinggal pergi.
Mobil sedan hitam Ayah adalah benda pertama yang kulihat ketika aku memasuki pekarangan hotel. Tidak lama kemudian, seorang pria kurus dengan wajah keriput dan kumis putih berlari tergopoh-gopoh ke arahku.
“Aduh, Non. Tuan udah nelepon Bapak delapan kali! Non kemana aja? Tuan bilang kita harus langsung ke Jakarta sekarang,”
“Ya ampun Pak, sekarang saya udah enam belas tahun! Bukan enam tahun lagi. Bilangin deh sama Ayah aku bisa jaga diri sendiri. Koper udah masuk ke mobil?”
Pria tua itu, Pak Kadir, mengangguk tanpa berani menatapku.
Di depanku tertera tulisan hitam: Gerbang Tol Pasteur. Sebentar lagi aku harus pulang ke Jakarta,dan besok, aku akan selamanya meninggalkan tanah air.
“Pak, Pak, puter sebentar ke Gunung Batu. Ada yang harus saya kerjakan!” teriakku sambil menepuk-nepuk kursi pengemudi.
“Tapi, Non…,” Pak Kadir ragu.
“Ah! Nggak ada tapi-tapian. Nanti soal Ayah gampang. Saya aja yang ngurus. Sekarang kalau Ayah telepon bilang lagi di jalan. Cuma sebentar aja kok, Pak. Paling satu jam.”
Pak Kadir hanya bisa menurut. Kadang aku kasihan dengan lelaki tua ini. Seumur hidupnya ia abdikan untuk keluarga Ayah. Sekarang, kami akan pergi, entah pada siapa ia menggantungkan hidupnya dan keluarganya.
Di depan rumahmu aku berdiri cukup lama. Di tempat ini aku mengucapkan selamat tinggal, dan mencium pipimu untuk terakhir kalinya. Aku menangis lagi. Air mataku sudah tidak terbendung. Tempat ini adalah tempat yang paling menyakitkan di kota Bandung. Karena aku harus menerima kenyataan kalau sebenarnya cerita kita hanya sekedar mimpi indah saat tidur siang, terlalu cepat berakhir.
Kuselipkan kertas yang kulipat rapi di balik pintu. Namamu kutulis jelas di situ. Aku percaya adik-adikmu tidak sebegitu isengnya dan membantu kamu membacanya.
Saat aku berbalik, aku melihat bayanganmu menghalangi cahaya matahari terbenam. Kamu berdiri di sana, memandangku dengan tatapan yang sama saat aku mengucapkan selamat tinggal terakhir kali. Kita membatu beberapa saat sampai kau membuka suara.
“Aku udah ngikutin kamu dari …,”
“Starbucks. Gue tau,”
Raut kekagetan muncul di wajahmu. Tapi kamu mampu mengatasinya dengan cepat. Kau akhiri kekagetanmu itu dengan senyum formalitas yang paling kubenci.
“Jadi, apa kabar?”
Stop! Aku benci ini! Aku paling benci saat kamu berpura-pura menganggap semuanya baik-baik saja. Dan cerita tentang kita tidak pernah ada! Stop! Hentikan! Aku tidak mau melihatmu seperti ini.
“Kabar baik. Besok aku ke Amerika.” Aku benci diriku sendiri atas jawaban ini.
“Kap…,”
“Mungkin nggak akan balik lagi,” jawabku cepat-cepat. Sebisa mungkin aku coba untuk menahan tangis.
Kamu tertawa kecil.
“Masih bisa membaca pikiran saya?”
Aku mengangkat kedua bahuku menandakan tidak tahu. Lalu kita mematung lagi.
“Aku harus pergi.” Kali ini aku yang memecah kesunyian.
“Sampai jumpa,” katamu.
“Selamat tinggal,” balasku.
Saat aku melewatimu, aku tidak tahan untuk tidak menciummu. Bibir kita sekali lagi bertemu. Sedetik kemudian aku memasang wajah andalanmu, menganggap tidak terjadi apa-apa.
Aku masuk ke mobil dan Pak Kadir, seolah mengerti hatiku, dengan segera menancap gas dan menghilang di belokan jalan.
Di Gerbang Tol Pasteur telefon genggamku berbunyi lagi. Darimu. Aku mematikannya. Karena menurutku, antara kita sudah benar-benar berakhir. Perasaanku untukmu diakhiri dengan ciuman selamat tinggal. Sebuah akhir manis yang menyakitkan.
Dua kali…
Tiga kali…
Kamu masih belum menyerah juga.
“Udah, Non, teleponnya diangkat aja,” saran Pak Kadir.
“Ih, berisik deh. Bapak konsen aja sama jalanan, kalau tabrakan gimana?”
Sekali lagi telefon genggamku berdering. Baru hendak kuangkat, aku menyadari itu adalah sebuah SMS. Dari kamu.
Keringat dingin mengucur di dahiku.
Buka? Jangan?
Aku berperang dengan diriku sendiri. Tombol ‘Read’ itu menjadi pialanya. Isi dadaku seperti mau meledak. Aku bisa mendegar degup jantungku sendiri.
Akhirnya, seperti biasa, cinta menang. Aku menekan tombol ‘read’ dan membiarkan Pak Kadir terkejut setengah mati oleh teriakanku. Teriakan yang mirip dengan lolongan. Sebuah penyesalan. Sebuah dendam. Amarah. Benci. Dan cinta.
Aku menangis sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta, karena satu kata darimu: Maaf.
Kamu Indah

Twilight kerennnnnn! Gue terinspirasi untuk bikin sebuah sastra tentang Twilight because of the song Mr. Najib made. Mr. Najib is my teacher anyway. Lagu dia judulnya Tears From A Vampire, and it’s like the best song yang gue denger up till now untuk tahun 2008. Bagus banget lohhhhh! Hahaha…
Now, it’s my version, Isabella Swan’s point of view. Her thoughts for Edward Cullen. Inspired by Twilight.
Kamu indah.
Dalam segala cara siapapun bisa mendeskripsikan keindahan. Sebuah reinkarnasi sempurna dari keindahan murni. Dan segala tentang kamu, membuat aku semakin terperosok dalam lubang yang dari awal seharusnya tidak kudekati.
Aku terperangkap dalamnya, tapi tidak mencoba untuk merangkak keluar. Karena apabila aku keluar, maka aku akan kehilangan keindahanmu. Kehilangan debaran saat kau menyentuh kulitku. Dan aku tidak mau semua itu.
Kamu indah.
Jauh lebih indah daripada kepergian matahari di batas dunia yang memantulkan cahaya jingga sempurnanya ke warna lembayung langit, menciptakan gradasi yang memukau mata siapapun yang melihatnya. Kamu tidak bisa dideskripsikan, karena kamu jauh lebih indah daripada kata-kata Shakespeare sekali pun.
Kamu sempurna.
Caramu memperlakukanku luar biasa. Ada kalanya aku membencimu sampai ke sel terkecil dalam tubuhku. Tetapi kau lebih sering membuatku tidak berdaya, melemaskan seluruh otot tubuhku, menghentikan nadiku, dan mengosongkan otakku. Aku mau selamanya berada dalam dekapan tangan dingin yang berkilau di bawah cahaya matahari, selamanya memandang wajah sempurna tanpa cela.
Aku sadar di balik kesempurnaan itu ada bahaya terbesar manusia. Tapi aku tidak peduli. Aku terlalu terobsesi denganmu; wajahmu, gerak-gerikmu, harummu, segalanya tentang kamu. Dan aku mencintaimu, dengan segala cara seseorang bisa mendeskripsikan cinta. Cinta tanpa syarat dan tidak bisa dihentikan.
Untuk saat ini, aku hanya mau mengikuti kata hati.
Inspired by : Twilight Saga
Maestro

Puisi ini adalah puisi terlama yang gue bikin. Three months! 12 minggu!! Bukan karena puisinya bagus banget atau apa, cuma pas lagi ga produktif aja, pas lagi ga ada inspirasi. Semoga ini bagus coz it has wasted 3 motnhs of my wonderful life.
Bilangan ini
Apabila kutambah satu
Akan berbeda delapan dengan kukurang tujuh
Hidup bukan begitu
Jangan coba-coba kau hitung hidupmu
Kotak ini
Kalau kuputar ke kiri biru
Kalau kuputar ke kanan ungu
Hidup bukan begitu
Warna satu sisi tak jadi penentu
Karena hidup
Nggak bisa dilihat dari satu sisi tertutup
Hidup itu tentang bertahan
Tentang saling menemukan
dan kehilangan
Hidup itu tentang mencintai
Dan tidak mementingkan untuk dicintai
Karena tujuan dari hidup adalah memberi
Disakiti itu biasa
Dihindari bukanlah problema
Untuk kita bisa mengatasinya
Itulah inti permasalahannya
Asal kamu kenal iramanya
Kamu pasti bisa
Mengalahkan trik trik dunia
Yang mencoba buat hidupmu tak berharga
Dan saat kau sudah bisa menguasainya
Bersiaplah,
karena kau maestro dunia
Singapore, 2008
The Song Of The Rain

Cerita ini gue bikin pas gue lagi di Bandung. Waktu itu Bandung hujan melulu! And I was in my melancholic state… Mungkin rada mirip tangisan bintang formatnya sih. But I had no other idea! lol
Once again, I hear that familiar sound echoing in my ear. It blends with the rhythm of the rain from my window pane; creating a fusion of melody, tempting me to dance. Quickly, I wrote it all down on a paper, a song of the rain.
The song of the rain is about sadness. It is about loss, about a broken hope. That answers the mystery of most people feeling gloomy whenever it rains. Because the rain, that pour out from the sky, is like the tears of heaven.
In my song of the rain, there is no staccato or a ‘do’ which remarks a happy song. But it is an adagio and it is full with minor notes. Each note represents each drop of the rain. The rain told me that they are tears, and there is no happy tear in their dictionary.
I know it sounds weird. But I really could hear them talking to me through the rythm they make when they collided with the earth.
They said that they weep for the people of the world for losing their human sense. They weep for mother earth for slowly dying. And they weep for me, a young girl locked in a square room, with a violin and some scores.
I try to play it on my violin. It works. The song of the rain; a blend of tears, sadness, and disappointment. And it ends with my string jumped out, leaving a trace of blood on the mirror.
Breaking news:
A music genius was found dead in her room in a rehabilitation center in New York City. The cause of her death was her violin string that the police suspects was purposely broken by the musician herself. The detectives confirmed that it was a suicide. This statement is supported by the specialists and nurses that took care of her for the last six months as she was put into rehab due to an attempt of suicide.
An Interlude
A quite influential person in my life told me today that I should stop forcing myself to make all my words rhyme. Before he told me so, actually there were some people told me the same thing; but I did not care. Why should I even give a damn? My poems are liked because of the rhyming skill that I naturally has.
But this person told me something that made me repent from my stubbornness. He said that my focus on rhyme would have bury 95% of my idea. I realized that by forcing myself to chain the words with rhymes, creating a poem that enchants people by its perfect incredible rhyming words does not give my poem an ability to stunt people with its message, with what it was created for. Well, he is right!
I remember what another person told me as well. It was way before I started to frenzy rhymes. “Words do not really matter, what matters is the meaning of them, the message hidden behind them.”
I’m sorry guys for being so fanatic to rhymes…
From now on, I will let the words lead me, not I lead the words.